Kamis, 30 Desember 2010

Longsor Lumpuhkan Lintas Blangkejeren-Takengon

* Krueng Teukueh Meluap, 6 Desa Terendam di Pidie
Tue, Dec 21st 2010, 10:49


Pohon kelapa dan rumpun bambu memenuhi Sungai Krueng Teukueh, tepatnya di Gampong Mali Lamkuta, Kecamatan Sakti, Pidie, Senin (20/12). Akibatnya, air sungai terhambat dan berpotensi meluap serta merendam perkampungan penduduk. SERAMBI/M NAZAR


BLANGKEJEREN - Arus transportasi di lintas Blangkejeren-Takengon, Senin (20/12) kemarin, dilaporkan sempat lumpuh total selama tujuh jam akibat longsor yang menutupi badan jalan. Sementara di Kecamatan Sakti, Pidie, sebanyak enam desa (gampong) dilaporkan terendam banjir akibat meluapnya sungai Krueng Teukueh.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Serambi, kemarin, longsor yang menimbun ruas jalan nasional yang menghubungkan Blangkejeren ibu kota Kabupaten Gayo Lues (Galus) dengan Takengon ibu kota Kabupaten Aceh Tengah yang jaraknya sekitar 60 KM, dilaporkan terjadi di kawasan tanjakan perbukitan Singgahmata, Kecamatan Pantan Cuaca, Galus.

Longsor yang terjadi sejak pukul 07.00 WIB kemarin, telah menyebabkan puluhan kendaraan bermotor, baik kendaraan pribadi maupun angkutan umum macet total. Para pengemudi baru bisa melewati kawasan itu pukul 14.00 WIB, setelah sejumlah masyarakat setempat secara sukarela menyingkirkan material longsor di badan jalan dengan peralatan seadanya.

Menurut Yan, seorang sopir trayek Blangkejeren-Takengon, material longsor yang menutupi badan jalan tersebut mencapai ketinggian satu meter dan sekitar sepanjang enam meter lebih. “Kita terjebak di tengah antrean panjang kendaraan bermotor dan menunggu untuk bisa melewati satu persatu setelah longsor disingkirkan,” katanya.

Bahkan, Pemimpin Perusahaan Harian Serambi Indonesia Mohd Din, bersama Manajer Sirkulasi M Jafar dan rombongan, yang sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah tersebut, dilaporkan ikut terjebak macet di lintasan Blangkejeren-Takengon itu. “Mobil kami baru bisa lewat, setelah ditarik oleh satu mobil double cabin yang kebetulan lewat di lokasi itu,” lapor Mohd Din, sekitar pukul 13.00 WIB, kemarin.

Secara terpisah, PT Pelita Nusa selaku penanggung jawab badan jalan yang tertimpa material longsor dimaksud, Askari, mengatakan bahwa pihaknya akan segera menurunkan alat berat ke lokasi. “Ya, kita akan segera mengerahkan petugas dan alat berat ke lokasi tersebut untuk menyingkirkan material longsor, agar arus transportasi normal kembali,” katanya kepada Serambi, kemarin.

Sungai meluap
Sementara itu, hujan deras melanda Kabupaten Pidie, Minggu (19/12) sejak pukul 19.00 WIB, menyebabkan Sungai Krueng Tekuh meluap sehingga merendam enam desa (gampong) di Kecamatan Sakti, Pidie. Keenam gampong tersebut adalah Gampong Paloh Jerla, Cumbok Niwa, Cumbok Lii, Kampung Pisang, Perlak, Meunasah Balee, dan Gampong Lingkok.

Keuchik Cumbok Lii, Kecamatan Sakti, M Nur Abdullah, kepada Serambi, Senin (20/12) menuturkan, sebanyak enam gampong di Kecamatan Sakti teremdam banjir, akibat meluapnya Sungai Krueng Tekuh. Air sungai mulai meluap, mulai pukul 22.00 WIB. Puncaknya, hingga pukul 01.00 WIB, air setinggi pinggang orang dewasa merengsek masuk kerumah penduduk.

Warga di Gampong Cumbok Niwa, Cumbok Lii dan Kampong Pisang sempat panik saat air Sungai Krueng Tekuh meluap secara tiba-tiba itu. “Masyarakat di tiga desa nyaris mengungsi. Namun, hingga pukul 03.00 WIB, air yang sempat menggenangi rumah penduduk secara perlahan mulai surut. Sehingga warga tidak risau lagi,” jelas M Nur didampingi Geuchik Cumbok Niwa, Hasbi.

Dikatakan, meski banjir tersebut tidak menelan korban jiwa, tapi 8 hektare areal sawah di kecamatan itu rusak. Bahkan, infrasruktur publik, seperti jalan. Juga erosi sungai bertambah panjang dan melebar. Bahkan, tanaman jagung dan ubi kayu milik warga tercabut, akibat digerus banjir. “Kita mengharapkan agar pemerintah ada perhatian dan peduli terhadap masalah ini,” katanya.

Sementara itu, satu unit rumah panggung milik Ahmad Malem (60) warga Gampong Mali Lamkuta, Kecamatan Sakti, Pidie, Senin (20/12) dini hari, amblas ke dasar Sungai Krueng Kumba, akibat tebing sungai digerus air. “Sebelumnya, satu jembatan juga amblas akibat kerusakan tebing Krueng Kumba yang kini semakin parah,” kata Keuchik Mali Lamkuta, Razali, kepada Serambi, kemarin.(c40/naz)

Sumber :Serambinews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar